18 Oktober 2009

Eyang Puteri dan Aku



Engkau ibuku, eyangku..
dititipkan bukan dalam rahimmu, kau mengasuhku
dicintaimu, aku..

Kau, suamimu, dan aku.
Ibu, Bapak, dan aku
tak seperti mereka pergunjingkan..
tentang kita

Aku, Bunda, dan ayah tak pernah ada meski wujudnya dekat

Engkau eyangku, ibuku..
yang kutahu hanya itu !
halus tanganmu menimangku,
peluh seharian demi memberiku susu.
hingga kini tak ada setitik ragu, untuk memanggilmu Ibu

Hari ini bahagiaku, Ibu..
Dia mempersuntingku dengan sederhana
seperti kau ajari aku serupa
Lihatlah,...
semuanya kau susun dengan rapih
perayaan kecil, namun khidmat

hari ini, bahagiaku...
suamimu menikahkanku, meski tak sememangnya

Dia suamimu, bapakku...
yang kuingini hanya itu.
karna ayah tak pernah nyata untukku, meski raganya dekat.

Mulai hari ini, aku akan terus membahagiakanmu
aku, dan dia yang kelak akan kau panggil juga dengan "nak"..

Engkau eyangku, ibuku..
biarlah tetap begitu

*14 Oktober 2009

Namaku Yudistira, aku baru kelas 3 SD !

" Namaku Yudistira. Aku mau sholat dan belajar ngaji, biar masuk surga...."

Sabtu ini sungguh melelahkan bagi Sekar. Seharian berkawan asap kendaraan dan aroma bahan bakar membuatnya mual, ditambah kepadatan jadwal hari itu semakin meracau fikirnya. Namun, ada yang spesial di senja sabtu itu..

Yudis, adalah satu dari enam murid batul Iqro' Sekar. Ia murid bimbingan baru, eyang Yudis yang mengusulkan supaya privat pada Sekar, kerna 2 semester nilai agamanya jeblok.
Sore itu, Yudis sengaja merajuk sang bunda untuk ia bisa menginap dirumah eyang, yang hanya berbatas jalan saja dengan rumah Sekar. Alasan yang ia buat agar bisa bermain dirumah Sekar.

Tepat. Sore itu Yudis telah mengunggu Sekar di Toko Lia, yang berhadapan dengan Toko buku tempat Sekar bekerja. Tidak ada semenit, teriakannya memaksa senyum Sekar untuk mengembang. "Halo Yudis !" sapa Sekar dengan senyum buatannya. "Yudis main yah, sama mbak Sekar ?" tanpa menunggu persetujuan eyang, Yudis beringsut kerumah Sekar. Tepatnya di sudut baca toko buku milik ayah Sekar.
"Ya Robbi, peluh ini belum kering" batin Sekar meski dalam lubuk hati tidak tega juga membiarkan Yudis sendirian. Akhirnya Sekar memutuskan untuk mandi, menyegarkan benak seharian tadi penuh amarah.

Yudis telah asyik dengan buku-bukanya. Tiba-tiba pertanyaan tentang neraka membuat Sekar berkerut. Agak muyeng Sekar memilah jawaban. "Mbak Sekar, besok kita di akhirat pasti melewati jembatan panjang yah?" "kita jatuh ndak nanti?" "bisa pegangan ndak kita nanti?" seperti berondongan peluru menembus otak Sekar, pertanyaan Yudis tiada koma. "iya Yudis, kelak kita akan meniti jembatan panjang bernama..." belum selesai dengan jawaban, Yudis penuh semangat berteriak "Shirotol mustaqim..". Sekar tersenyum, lebih ikhlas kini, melihat binar Yudis di pergantian senja, sabtu itu. "yang menolong kita hanyalah amal. Nah, nanti amalan kita akan ditimbang, lebih berat amalan baik atau dosanya" sambung Sekar. "berarti kalo Yudis rajin sholat, Yudis bisa masuk surga?" tangannya mulai ditopangkan di dagu, menyimak penjelasan selanjutnya. "insyaAlloh" "Yudis bolong ndak sholatnya?" selidik Sekar pura-pura serius. Yudis hanya nyengir. "Yuk kita sholat dulu" ajakan Sekar seketika disambut dengan genggaman tangan Yudis, menariknya segera menuju jamban.

Yudis telah sempurna dengan gerakan wudlunya. tiada pudar semangatnya melantun niat seperti yang diajarkan bapak guru di sekolah. Sekar memandangnya penuh kasih. Selintas lamunan beberapa periode silam, tentang kerinduan dan harap beroleh adik.Kini kerinduannya terangkai menjadi sebentuk asa, kelak dalam rahim ini akan dititipkan amanah, yang insyaAlloh lebih indah dari seorang adik. "Aku boleh jadi imam, mbak Sekar?" tanya Yudis. Sejenak membuat Sekar terhenyak,tersadar dari lamunnya.
"boleh, Yudis mau belajar jadi imam?" kali ini Sekar benar-benar terkesima. "Yudis kelak mau jadi imam yang baik!" "InsyaAlloh, Yudis pasti bisa", imbuh Sekar sembari mengusap rambut Yudis.

Sekar memulai wudlunya, sementara Yudis menyiapkan sejadah diruang sholat. Mereka tidak menyadari, sepasang mata menatap dengan haru. Mata sayu milik ummi Sekar.
Yudis memulai dengan iqomah, dan selanjutnya menjalankan perannya sebagai imam kecil. Alunan al-fatihah dari suara cadelnya menggelitik, namun Sekar mencoba pada khusyuknya. Alunan yang coba disenandungkan, mengikuti merdunya suara imam masjid di perumahan Yudis.
"Allohu Akbar" dalam tunduk sujud akhir Sekar menyelipkan permohonan semoga kelak imam kecil ini mampu menjaga amanahMu Yaa Aziz, untuk menjadi imam yang mulia hatinya. "Assalamualaykum warohmatullohi wabarokatuh 2x" Yudis menutup Sholat Maghrib, diikuti Sekar. Yudis membalik setengah badan, memberikan senyum terbaiknya pada Sekar. Sekar membalasnya dengan acungan jempol. "lanjutkan dengan do'amu, nak". "munajatkan untuk mamah dan papah, jgn lupa"..

"robbighfirlii waliwalidayya warhamhumakama robbayaniishoghiroo". "Udah, mbak.Yudis mau gambar mobil". dan mobil itu sedang parkir di depan masjid...

04 Oktober 2009

Lihat Kebunku..

Mentari menyapa, salam bagi semesta
alunan angin menyimpulkan senyum bapak tua, diberanda..
"hmmm, Alhamdulillah" syukurnya berbaur bangga didada
"kusiapkan untuk isteriku berbuka, senja nanti" pasti
nya..



Ulil-ku hanya makan, jangan takut !

Rimbun, mewangi tambulapot disamping outletku
ta berbuahpun, semerbak aromanya menenangkan. jika aktifitas pagiku ada dikitarannya
seperti pagi itu, si kecil menyapa ramah
seperti biasa, si bocah dalam gendongan embah berbagi senyum
seperti biasa, celotehnya, mamah ta kunjung terjaga memberiku susu..

Obrolan ta menunggu lama,
embah ngacir ketakutan eh si bocah berseru girang.
ternyata, ulil-ku sedang bersantap

Ulil hijau, di rimbunan tambulapot jeruk..
asik meliuk, maju mundur, bergerumut...
ta usalah kau takut, ia hanya bersantap

Ulil, sayangilah. kerna ia memberimu hikmah
dari wajah yg senantiasa menjijikkan bagi sebagian kita
akan mewujud kecantikan warna

pahamilah, ia sedang mengajarimu tauladan
ditampakkannya sebagian menjijikkan dari kehidupan jikalah dihiasi kemalasan
seperti yang terkisah dalam dongeng sekolah "ulat-kepompong-kupu kupu"
dalam tirakatnya, terdapat upaya untuk hijrah menuju kemuliaan hidup

Dan disukailah ia,
kepak sayap yg memesona kita, sirnalah hasrat menyingkirkan ia..
lenggak lenggok mengabarkan bahagianya terlepas dari belenggu yang menjijikkan

adakah tau, pelajaran syukur yg coba ia sampaikan?
Ulil-ku tidak serakah.menikmati adanya yang nampak dihadapan
Ulil-ku tidak tamak.mensyukuri setiap fase kehidupannya

dari ia,
aku dapatkan kemuliaan, seperti yang tertuang dalam ayatNya

Ulil-ku hanya makan, perhatikanlah !

Mimpi 3676


hanya Bismillah dalam benak
mengawali lantunan pujian dan harapan

Alhamdulillah,
segala nikmat yang telah tercerap, rangkuman kisah tersusun, dan bingkai mimpi yang mulai tertoreh..

Subhanalloh,
kukagumi keMaha-anMu, Robbi...
tiada warna, kata, menandingi karyaMu

...Laillahaillalloh,
tiada lain hanya Engkau Ya Alloh

nyatalah nanti,
kubelai indahmu, mahameru..
kutapak, kulintas bukit
bertahan dingin, biarlah kabutMu selimuti ranukumbolo..
mengukir legenda yang tersisa











ceritakan kawan, lelahmu..
Ranukumbolo Semeru, 3676 mdpl


*postingan mimpi
Sony Wicaksono












24 September 2009

selamat datang kembali...

rembulan separuh,
bintang kecil mengawali membuka malam. pintu kamar hatiku kembali diketuk.
rasa ini mengembara. melintas galau, resah, dan ketiadaberdayaan. mimpi sejenak terkubur dalam nyata. pintu kamar hati, kamu ketuk perlahan. dengan buai khasmu..

kamu bawakan serta kembang kenangan untuk kuciumi.
silakan hadir kisah, berbagilah dengan nyataku. aku perhatian hadirmu..

untukmu, petualang kecil...
ruang kamarmu telah sempurna kuhiasi.
lampu kecil saja menemani kisah kita
bekalpun kusiapkan sudah, untuk perjalanan singkat kita esok
poket kamera dan catatan saku
aku siap bermimpi...

16 September 2009

Perempuan dalam Badai (masi cerita dari kampung)

ta seperti senja yang biasa, riuh ramai orang-orang berkendara. sibuk nampaknya, menyiapkan menu buka sore ini. sengatan terik yang lewat membuat rasa masi terasa memanas. sedikit terdengar ada cacian, hanya karena seorang lupa menyalakan lampu penanda pada motor saat diujung belokan

dua perempuan muda tengah asik berbincang didepan beranda. membicara soal kekinian, diselingi sedikit harapan bagaimana peluang didepan. Hhmm..sirius rupanya, hingga perjalanan senja mereka lupakan, langit kian hitam. hitam pekat, mengiring reriuh halilintar..

Hujan,

hujan,,..dua perempuan tetap asyik dalam bincangannya, seakan tiada esok untuk menuntaskan. Tetapi mereka menyadari hadirnya, menikmati sejuk hawanya. Secangkir teh dan sebiji kurma menemani acara buka. Jeda menghentikan, berpihak pada lamunan..

senja yang sama dipelataran berbeda, perempuan sebaya ta sempat nikmati rahmatnya hujan. sibuk dia dengan siapan dagangan dan rengek si buyung. Berbuka sekedarnya, dan lalu menyelam kembali rutinitas senja. peluh pada beban, mengurus diri dan masa depan si buyung. airmata rindu hampir mengering dalam munajat, kapan si bapak pulang.

"Tenang buyung, ta usah hiraukan mamah". senyummu sudah menjadi kekuatan untuk mamah. Tenangkan adanya, sebab kita akan senantiasa bersama. Bapak, biarlah Alloh menjagai.

beberapa kilometer berjarak, masih disenja serupa, ibu muda begitu tanpa air muka yang jelas. Ya, hanya datar saja, seolah baginya hari-hari adalah sama. Perulangan waktu saja. Tetap dengan kerepotan tiga bocah, dan dua anak asuh. suami sibuk mengais rizki, hanya ibu tua menemani rutinitasnya..

Senja menghilang berganti malam, namun tetap terjaga oleh sang hujan. Halilintar bersaut, memiriskan hati yang tampak bersujud..

Hujan kian mengembara seperti badai, dan ta ada pilihan buat mereka, para perempuan untuk tetap menikmati hujan.sebab perjalanan hari itu tetap harus dilanjutkan...

dua perempuan muda bergegas. Bekal dicukupkan seperlunya, untuk melindungi diri dan asa yang telah mereka simpan rapat dalam ransel. Asa, yang telah mereka susun dalam bincangannya. Mesin motor dihidupkan, doa dipanjatkan. Melaju, dan terus melaju pada lintasan masing-masing, menerjang badai.

perempuan sebaya, telah selesai menyiapkan tatanan saji untuk dijual. Si buyung dibiarkan dalam lamunan mimpi. Doapun ia lafazkan "Ya Robb, berkahilah hujan ini, jadikan rizki kami halal, dan titipkan rindu untuk suami ku"

Ibu muda juga telah menuntaskan kesibukannya. Sang nenek dari ketiga bocah, mengambil perintah, "hayoo, semua pada ngambil wudhu, kita jama'ah" berebut si bocah memainkan air, "nenek, aku wudhu pake air hujan yah?" dan si asuh menyiapkan sejadah di ruang pesholatan. Kamar, yang tiap pagi dan sore untuk tempat belajar murid les, malamnya beralih menjadi ruang bermunajat. " Allohu Akbar" nenek menjadi imam.semua tunduk, memasrahkan sang nasib kepada Robbnya. "Assalamualaykum warohmatullohi wabarokatuh" diikuti semua makmum. Belum hilang dalam hitungan detik, si bocah bungsu berteriak girang, "mamah, Abi pulang...." binarnya lucu. "Aku buatkan teh untuk abi yah. kasihan abi pasti kedinginan"

.......,

perempuan dalam dekapan badai masing-masing..berusaha untuk tegar, melaluinya..