18 Oktober 2009

Namaku Yudistira, aku baru kelas 3 SD !

" Namaku Yudistira. Aku mau sholat dan belajar ngaji, biar masuk surga...."

Sabtu ini sungguh melelahkan bagi Sekar. Seharian berkawan asap kendaraan dan aroma bahan bakar membuatnya mual, ditambah kepadatan jadwal hari itu semakin meracau fikirnya. Namun, ada yang spesial di senja sabtu itu..

Yudis, adalah satu dari enam murid batul Iqro' Sekar. Ia murid bimbingan baru, eyang Yudis yang mengusulkan supaya privat pada Sekar, kerna 2 semester nilai agamanya jeblok.
Sore itu, Yudis sengaja merajuk sang bunda untuk ia bisa menginap dirumah eyang, yang hanya berbatas jalan saja dengan rumah Sekar. Alasan yang ia buat agar bisa bermain dirumah Sekar.

Tepat. Sore itu Yudis telah mengunggu Sekar di Toko Lia, yang berhadapan dengan Toko buku tempat Sekar bekerja. Tidak ada semenit, teriakannya memaksa senyum Sekar untuk mengembang. "Halo Yudis !" sapa Sekar dengan senyum buatannya. "Yudis main yah, sama mbak Sekar ?" tanpa menunggu persetujuan eyang, Yudis beringsut kerumah Sekar. Tepatnya di sudut baca toko buku milik ayah Sekar.
"Ya Robbi, peluh ini belum kering" batin Sekar meski dalam lubuk hati tidak tega juga membiarkan Yudis sendirian. Akhirnya Sekar memutuskan untuk mandi, menyegarkan benak seharian tadi penuh amarah.

Yudis telah asyik dengan buku-bukanya. Tiba-tiba pertanyaan tentang neraka membuat Sekar berkerut. Agak muyeng Sekar memilah jawaban. "Mbak Sekar, besok kita di akhirat pasti melewati jembatan panjang yah?" "kita jatuh ndak nanti?" "bisa pegangan ndak kita nanti?" seperti berondongan peluru menembus otak Sekar, pertanyaan Yudis tiada koma. "iya Yudis, kelak kita akan meniti jembatan panjang bernama..." belum selesai dengan jawaban, Yudis penuh semangat berteriak "Shirotol mustaqim..". Sekar tersenyum, lebih ikhlas kini, melihat binar Yudis di pergantian senja, sabtu itu. "yang menolong kita hanyalah amal. Nah, nanti amalan kita akan ditimbang, lebih berat amalan baik atau dosanya" sambung Sekar. "berarti kalo Yudis rajin sholat, Yudis bisa masuk surga?" tangannya mulai ditopangkan di dagu, menyimak penjelasan selanjutnya. "insyaAlloh" "Yudis bolong ndak sholatnya?" selidik Sekar pura-pura serius. Yudis hanya nyengir. "Yuk kita sholat dulu" ajakan Sekar seketika disambut dengan genggaman tangan Yudis, menariknya segera menuju jamban.

Yudis telah sempurna dengan gerakan wudlunya. tiada pudar semangatnya melantun niat seperti yang diajarkan bapak guru di sekolah. Sekar memandangnya penuh kasih. Selintas lamunan beberapa periode silam, tentang kerinduan dan harap beroleh adik.Kini kerinduannya terangkai menjadi sebentuk asa, kelak dalam rahim ini akan dititipkan amanah, yang insyaAlloh lebih indah dari seorang adik. "Aku boleh jadi imam, mbak Sekar?" tanya Yudis. Sejenak membuat Sekar terhenyak,tersadar dari lamunnya.
"boleh, Yudis mau belajar jadi imam?" kali ini Sekar benar-benar terkesima. "Yudis kelak mau jadi imam yang baik!" "InsyaAlloh, Yudis pasti bisa", imbuh Sekar sembari mengusap rambut Yudis.

Sekar memulai wudlunya, sementara Yudis menyiapkan sejadah diruang sholat. Mereka tidak menyadari, sepasang mata menatap dengan haru. Mata sayu milik ummi Sekar.
Yudis memulai dengan iqomah, dan selanjutnya menjalankan perannya sebagai imam kecil. Alunan al-fatihah dari suara cadelnya menggelitik, namun Sekar mencoba pada khusyuknya. Alunan yang coba disenandungkan, mengikuti merdunya suara imam masjid di perumahan Yudis.
"Allohu Akbar" dalam tunduk sujud akhir Sekar menyelipkan permohonan semoga kelak imam kecil ini mampu menjaga amanahMu Yaa Aziz, untuk menjadi imam yang mulia hatinya. "Assalamualaykum warohmatullohi wabarokatuh 2x" Yudis menutup Sholat Maghrib, diikuti Sekar. Yudis membalik setengah badan, memberikan senyum terbaiknya pada Sekar. Sekar membalasnya dengan acungan jempol. "lanjutkan dengan do'amu, nak". "munajatkan untuk mamah dan papah, jgn lupa"..

"robbighfirlii waliwalidayya warhamhumakama robbayaniishoghiroo". "Udah, mbak.Yudis mau gambar mobil". dan mobil itu sedang parkir di depan masjid...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar