ta seperti senja yang biasa, riuh ramai orang-orang berkendara. sibuk nampaknya, menyiapkan menu buka sore ini. sengatan terik yang lewat membuat rasa masi terasa memanas. sedikit terdengar ada cacian, hanya karena seorang lupa menyalakan lampu penanda pada motor saat diujung belokan
dua perempuan muda tengah asik berbincang didepan beranda. membicara soal kekinian, diselingi sedikit harapan bagaimana peluang didepan. Hhmm..sirius rupanya, hingga perjalanan senja mereka lupakan, langit kian hitam. hitam pekat, mengiring reriuh halilintar..
Hujan,
hujan,,..dua perempuan tetap asyik dalam bincangannya, seakan tiada esok untuk menuntaskan. Tetapi mereka menyadari hadirnya, menikmati sejuk hawanya. Secangkir teh dan sebiji kurma menemani acara buka. Jeda menghentikan, berpihak pada lamunan..
senja yang sama dipelataran berbeda, perempuan sebaya ta sempat nikmati rahmatnya hujan. sibuk dia dengan siapan dagangan dan rengek si buyung. Berbuka sekedarnya, dan lalu menyelam kembali rutinitas senja. peluh pada beban, mengurus diri dan masa depan si buyung. airmata rindu hampir mengering dalam munajat, kapan si bapak pulang.
"Tenang buyung, ta usah hiraukan mamah". senyummu sudah menjadi kekuatan untuk mamah. Tenangkan adanya, sebab kita akan senantiasa bersama. Bapak, biarlah Alloh menjagai.
beberapa kilometer berjarak, masih disenja serupa, ibu muda begitu tanpa air muka yang jelas. Ya, hanya datar saja, seolah baginya hari-hari adalah sama. Perulangan waktu saja. Tetap dengan kerepotan tiga bocah, dan dua anak asuh. suami sibuk mengais rizki, hanya ibu tua menemani rutinitasnya..
Senja menghilang berganti malam, namun tetap terjaga oleh sang hujan. Halilintar bersaut, memiriskan hati yang tampak bersujud..
Hujan kian mengembara seperti badai, dan ta ada pilihan buat mereka, para perempuan untuk tetap menikmati hujan.sebab perjalanan hari itu tetap harus dilanjutkan...
dua perempuan muda bergegas. Bekal dicukupkan seperlunya, untuk melindungi diri dan asa yang telah mereka simpan rapat dalam ransel. Asa, yang telah mereka susun dalam bincangannya. Mesin motor dihidupkan, doa dipanjatkan. Melaju, dan terus melaju pada lintasan masing-masing, menerjang badai.
perempuan sebaya, telah selesai menyiapkan tatanan saji untuk dijual. Si buyung dibiarkan dalam lamunan mimpi. Doapun ia lafazkan "Ya Robb, berkahilah hujan ini, jadikan rizki kami halal, dan titipkan rindu untuk suami ku"
Ibu muda juga telah menuntaskan kesibukannya. Sang nenek dari ketiga bocah, mengambil perintah, "hayoo, semua pada ngambil wudhu, kita jama'ah" berebut si bocah memainkan air, "nenek, aku wudhu pake air hujan yah?" dan si asuh menyiapkan sejadah di ruang pesholatan. Kamar, yang tiap pagi dan sore untuk tempat belajar murid les, malamnya beralih menjadi ruang bermunajat. " Allohu Akbar" nenek menjadi imam.semua tunduk, memasrahkan sang nasib kepada Robbnya. "Assalamualaykum warohmatullohi wabarokatuh" diikuti semua makmum. Belum hilang dalam hitungan detik, si bocah bungsu berteriak girang, "mamah, Abi pulang...." binarnya lucu. "Aku buatkan teh untuk abi yah. kasihan abi pasti kedinginan"
.......,
perempuan dalam dekapan badai masing-masing..berusaha untuk tegar, melaluinya..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar