Edelweisku rindu,
perjumpaanku dgmu pagi ini mengingatku pada awal.
perkenalan tanpa skenario, tp mengasyikkan
aku langsung suka
suka padamu !
Seorang kawan mengajakku singgah di altarmu, puncak tinggi sebuah keanggunan
peluh kusimpan sebagai nyawa, menjejak semakin keatas
menemuimu...
Subhanalloh, engkau rupawan
seperti yang orang bincangkan tentang wangimu, keabadian
engkau lukisan tanpa warna, sangat alami
aku memintamu turut serta,
menjalani kehidupan yang lain, dirumahku
aku jaminkan cinta padamu, akhirnya kaupun luluh
Tiap pagi beranjak, kubalas senyummu dengan ciuman.
wangimu melupakannku akan kemarin yg muram
anggunmu, mengajariku sejatinyalah prempuan..
aku senang,
tapi tidak engkau
ah, kau lalu mengusikku dengan tangismu
kau inginkan angin meninabobokanmu saja
membiar gunung memelukmu erat
aku menjumpaimu kini, tapi bukan engkau..
ta ada keanggunan, karena kesederhanaanmu luntur
hanya wangimu kukenal, tapi itu bukan engkau
kamu bersolek,
merah, hijau, kuning, lalu biru
pastilah sebangsaku yg telah menodai kepolosanmu
11 Mei 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
narsis loe, jadi mendadak sok puitis malu ama umur
BalasHapushihi..dulu B.Indo-ku selalu B untuk puisi dan mengarang indah.gara jd cengeng jd nda suka puisi,yaaah berhubung ada yg ngajakin nari...
BalasHapusalih alih warming up lah. gada yg slh dg umur, dsyukuri malah :0